
Tampaknya, salah satu perbedaan nyata dari masa lalu dengan masa kini adalah “kecepatan”. Ya, di masa kini, isi dunia bergerak cepat. Intelektual multi bidang asal Inggris, Anthony Giddens, menyebut sekarang dunia berlari cepat, "run away world".
Beberapa tahun terakhir, hampir di setiap malam kita disuguhi acara televisi berupa referendum populer untuk memilih penyanyi terbaik dengan format pemilihan via pesan pendek (sms) melalui ponsel. Sebut saja Indonesian Idol, AFI dan KDI, atau yang lainnya. Di setiap malam tayangan tersebut, terjadi pemilihan cepat yang melibatkan penonton tanah air. Dalam hitungan menit, Sang Idola, bisa diketahui.
PEMILU 2008, tinggal menghitung bulan. Genderang kampanye telah bergema. Ini Pemilu ke-3 setelah gelombang reformasi 1998. Entah (malas saya menghitungnya) yang keberapa semenjak negara ini merdeka-berdiri. Yang pasti, secara umum, format penyelenggaraannya sama saja: kampanye di lapangan atau gedung, pawai dan arak-arakan di jalanan, tempel dan pasang sana-sini gambar calon (spanduk, poster, stiker dll.), pendirian TPS, pemilihan, perhitungan suara di setiap TPS –kemudian digabung di penyelengara pusat, dan menunggu hasil sampai berhari-hari. Terasa lama, menguras tenaga dan dana.
Saya membayangkan, kita bisa memilih presiden sebagaimana kita memilih idol dalam referendum populer memilih penyanyi terbaik. Kita tinggal sedikit menggerakan jari kita untuk menekan tombol ponsel, mengirimkan pesan pada siapa kita menjatuhkan pilihan. Lalu, beberapa menit kemudian,
Kampanye pun tak perlu menggunakan waktu, tenaga dan biaya yang banyak. Kita tak perlu kampanye di lapangan atau gedung yang mengorbankan waktu aktivitas banyak orang. Kita tak perlu pawai dan arak-arakan di jalanan yang membuat macet serta hadirkan polusi udara. Kita tak perlu pasang dan tempel sana-sini gambar kandidat yang mengotori wajah kota/daerah. Kampanye cukup dengan mengirimkan informasi para kandidiat seputar visi-misi, program, biografi dan lain-lain, ke kotak e-mail para konstituen.
Saya tak tahu kapan semua hal tersebut bisa dilakukan. Yang pasti, perlu kondisi yang jauh lebih maju dari kondisi masyarakat
Tapi bagaimana bila konsep cepat pemilihan idol diterapkan di kampus? Di kampus Universitas
Kita tahu bahwa, Universitas
Jika PEMIRA UI mengadopsi sistem pemilihan idol penyanyi terbaik, kita tidak perlu menyita banyak waktu yang memungkinkan pengorbanan terhadap aktivitas kuliah kita. Kampanye juga tak perlu memakai tenaga dan waktu banyak, cukup mengirimkan informasi kandidat ke kotak e-mail atau sms ke mahasiswa UI. Tak perlu lagi ada bilik suara. Tak perlu lagi ada panitia yang menunggui kotak suara berjam-jam. Mahasiswa tinggal memencet tombol hand phone, dalam beberapa menit, Ketua BEM sudah terpilih.
Namun sayangnya, PEMIRA UI beberapa tahun belakangan ini terasa hambar. Jelasnya PEMIRA UI tidak lebih menarik dari pemilihan idol penyanyi terbaik. Kemasan kampanye PEMIRA UI sudah tidak diminati mahasiswa UI secara umum, bahkan ada kesan hanya diselenggarakan, dikampanyekan, dipilih oleh (dan untuk mempertahankan hegemoni) komunitas tertentu saja. PEMIRA UI pun sudah tidak dipandang lagi sebagai suatu harapan perubahan. PEMIRA UI hanya dianggap sebagai rutinitas tahunan pergantian kepengurusan yang dianggap tidak berdampak pada dinamika ataupun kebijakan kampus. PEMIRA UI tidak berpengaruh langsung pada tiap-tiap individu mahasiswa. Ditambah dengan ketatnya jadwal kuliah yang menyebabkan banyak mahasiswa menjadi kurang peduli dengan keadaan di sekitarnya. Karena semua itu, sulit rasanya mengajak mahasiswa UI untuk mengeluarkan pulsanya sebagai bentuk partisipasi pemilihan Ketua BEM.
Rasanya kita perlu belajar dari Indonesian Idol, AFI dan KDI. Belajar agar PEMIRA UI bisa lebih semarak, menarik, menghibur dan berlangsung cepat di setiap pemilihan idolanya.
Saya membayangkan di suatu hari, semua mahasiswa UI datang berbondong-bondong ingin menyaksikan, memahami dan mengkritisi para kandidat ketua BEM di Balairung UI. Di dalam Balairung UI, para kandidat mengkampayekan visi-misi dan program kerjanya untuk satu masa kepengurusan. Kampanye diselingi dengan berbagai macam hiburan yang melibatkan ragam civitas UI, disertai kemasan yang semarak dan menarik. Puncaknya, berdasarkan pemahaman yang didapat melalui e-mail dan kampanye, semua mahasiswa memilih kandidat ketua BEM yang dianggapnya baik dan pantas menjadi wakil mahasiswa. Tinggal menuggu beberapa menit, ketua BEM sebagai Sang Idola mahasiswa terpilih. Tak perlu lama-lama lah, karena kini dunia menggerakan semua isinya untuk bergerak cepat. [Minggu, 20 Juli 08]
USEP HASAN SADIKIN
Mahasiswa Geografi FMIPA UI
koordinator Forum Lintas Batas
Comments