Penuturan Lukman merupakan salah satu testimoni para buruh migran dan keluarga, yang hak dan keberadaannya diperjuangkan oleh Gus Dur. Testimoni menjadi rangkaian acara Malam Penganugerahan “Migrant Care 2010,” yang diberikan kepada KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Selasa (9/2) malam di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta. Oleh Migrant Care -sebuah lembaga perjuangan buruh migran- Gus Dur dinyatakan sebagai “Presiden Pembela Buruh Migran Indonesia.” “Belum ada presiden sebelum dan sesudah Gus Dur, yang sangat peduli dan berjasa memperjuangkan buruh migran,” jelas Anis Hidayah, selaku Direktur Ekskutif Migrant Care. “Migrant Care adalah lembaga independent, tapi kami tak independentterhadap Gus Dur. Sehingga, kami sangat kehilangan beliau,” aku Anis mencurahkan hati.
Testimoni lain juga hadir dalam ruangan itu. Ada Adi bin Asnawi, buruh migran yang selamat dari ancaman hukuman mati di negara Malaysia; Zakiyah, ibunda Adi, yang bersama Adi naik ke atas panggung. “Berkat Gus Dur, saya masih bisa bersama anak saya. Terimakasih Pak Gus Dur,” ucap Zakiyah terisak.
Deden dan Hamid pun senada. Deden, suami Tari, buruh migran yang dianiyaya majikannya di Arab Saudi menegaskan, “SBY itu, penakut! Gus Dur memang sering bercanda, tapi omongannya bisa dipegang. Sedangkan Hamid, suami almarhum Siti Tarwiyah, pekerja rumah tangga yang meninggal di Arab Saudi, mengidamkan, kelak akan ada Gus Dur ke-2 agar tak ada lagi buruh migran yang menjadi korban. “Gus Dur adalah pejuang tanpa imbalan, pejuang sejati,” lengkap Hamid.
“Malam ini, saya nobatkan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional. Bodo amat, pemerintah mau bilang apa,” ucap Rieke “Oneng” Diah Pitaloka, yang malam itu hadir untuk menceritakan perjuangan dan kontribusi Gus Dur terhadap buruh migran. Beberapa puisi dibacakan Rieke, sebagai pemicu semangat melanjutkan cita dan perjungan sang pahlawan, Gus Dur.
Usep Hasan Sadikin
Comments
tapi itu hanya dari pemikiran saya ya pak.. nanti nilai saya di kurangin lagi..
hehehe