Senin, 21 Juni 2010

Perang “Persia”, Palestina-Israel dan Poligami

“Percuma kita berbicara, jika pedang sudah dihunuskan.”

(sebuah dialog dalam film Prince of Persia: The Sands of Time)

Anda setuju dengan pernyataan itu? Saya sih tidak. Saya berkeyakinan bahwa, perang tak akan menciptakan perdamaian. Cara kekerasan, apapun itu, hanya menunda masalah, bukan menyelesaikan. Damai yang dicapai dari perang, hanyalah jeda dari satu perang ke perang berikutnya. Karena perang akan menjadi adegan yang direkam film ingatan kita. Nantinya, ia menjadi pilihan untuk menyakiti, saat kita merasa mempunyai kekuatan.

Keyakinan itu coba ditekankan dalam film “Prince of Persia”. Melalui tokoh protagonis Dastan (diperankan Jake Gyllenhaal), film ini coba berpesan bahwa berbicara dengan kepala dingin (meski hati mungkin panas) merupakan cara beradab untuk menyelesaikan masalah. Selain itu, dalam berbicara, tempatkanlah pihak lain secara setara, sebagai saudara. Pihak lain bukan untuk dihilangkan atau dikuasai, tapi merupakan subjek bagi kehidupan bersama yang damai.

Kisah perang di Persia

Dastan sejatinya adalah manusia “biasa”. Ia bukan pangeran, yang lahir dari sperma raja. Darah birunya didapat dari niat baik yang tulus, bukan karena ingin mencari kuasa dan gelar pangeran. Karakternya bersahaja, rendah hati, dan menempatkan (prestasi) kemampuan sebagai jalan menghadirkan manfaat. Sehingga, makna pangeran adalah karya dan kebermanfaatan, bukan posisi.

Dastan kecil dipungut di pasar oleh Raja Persia, Sharaman (Ronald Pickup). Sang Raja kepincut karena talenta akrobatik dan iba pada kesengsaraan yatim-piatu Dastan. Anak Raja menjadi tiga: Tus (Richard Coyle), Garsiv (Toby Kebbell), dan si anak angkat, Dastan.

Saat pemerintahan kosong ditinggal raja, Nizam (Ben Kingsley), saudara kandung Sang Raja, menyarankan putra sulung raja untuk memerangi kerajaan Alamut. Menurut paman ketiga pengeran itu, Alamut mempunyai senjata rahasia yang bisa mengancam kedamaian Persia. Perang Persia pun menjadi pilihan.

Ternyata Nizam bermuslihat. Gudang senjata yang dimaksud tak ada. Nizam sebenarnya ingin memiliki harta keramat Alamut, berupa sebilah belati. Keistimewaan Belati Alamut bisa memutar mundur waktu. Nizam ingin ke masa remaja, saat ia menyelamatkan saudara kandungnya, Sharaman, yang hampir diterkam harimau. Seandainya Sharaman mati saat itu, Nizam lah yang menjadi Raja Persia. Dengan Belati Alamut pun, ia akan mengusai dunia. Sejarah peradaban akan dirubah, sesuai keinginan sifat/sikap kekerasan dan gila kuasanya.

Dari cerita itu, “Prince of Persia” seperti metafora Perang Irak-Amerika Serikat. Saat rezim Saddam Husein itu dijatuhkan, Bush sebelumnya mengatakan bahwa alasan Irak diperangi adalah karena Irak mempunyai senjata pemusnah massal. Padahal Amerika Serikat ingin mendapatkan sumber minyak. Tak lain, tujuannya untuk meneruskan status Amerika Serikat sebagai adidaya dunia.

Kini perang di Irak, “berakhir”. Tapi, keadaanya terus dihantui teror. Korban ledakan bom, martir, ranjau atau dari tembakan militer Amerika Serikat dan pasukan oposisinya masih saja hadir. Damai seperti mimpi seribu satu malam.

Tragedi Mavi Marmara

Di lain tempat, perang antara Palestina-Isreal masih berlangsung. Ketenangan di sana, hanyalah jeda perang yang tak lama. Israel sebagai pihak agresif, terus memperluas daerahnya dengan membangun permukiman di luasan daerah Palestina. Perlawanan warga Palestina memperjuangkan hak tinggal dan hidupnya, selalu ditanggapi tentara Israel dengan serangan yang lebih besar.

Terakhir watak agresif Israel terjadi di perairan tepi barat Gaza pada Senin (31/05/2010) kemarin. Pasukan pertahanan Israel (IDF) menyerang konvoi relawan kemanusiaan “Flotila to Gaza”. Mavi Marmara, salah satu kapal di rombongan, yang berisi 700-an orang, paling banyak jatuh korban. IDF menyatakan bahwa pihaknya cuma membela diri. “Soalnya, kami diserang lebih dahulu dengan pisau dan senjata,” kata pihak Israel. Pembelaan yang langsung dibantah oleh penumpang yang menyaksikan. “Pasukan Israel mulai menembak saat mereka masih berada di dalam helikopter yang membuntuti kapal,” kata Zuabi sebagaimana media massa Reuters, AP, dan AFP mewartakan, Selasa (1/6/2010)—kompas.com (2/6/2010).

Kita mungkin bingung kenapa tindak kekerasan Israel itu dilakukan. Di antara kita, yang tak bisa berbuat apa-apa, mungkin ada yang membayangkan, memutar kejadian agar para relawan tak memaksakan pergi ke Gaza, karena Israel sudah melarang-memperingati. Atau, memutar waktu untuk mencegah IDF tak memilih bertindak bidab. Atau memutar lebih jauh, mencegah negara Israel didirikan.

Tapi saya akan membayangkan lebih jauh lagi. Seandainya saya mempunyai Belati Almanut, saya akan menyayat dimensi waktu, untuk kembali ke masa Nabi Ibrahim. Isma(i)el dan Israel merupakan dua garis keturunan dari ibu berbeda, Hajar dan Sarah. Hajar melahirkan Ismail, dan Sarah melahirkan Ishaq. Dari mereka, lahir klan Arab Islam (serta Nasrani) dan Yahudi. Keturunannya semakin banyak, dan melestarikan keyakinan. Sebagian, yang berada di sekitar tanah (yang katanya) suci Yerussalem, memilih berperang hingga kini.

Yahudi Israel dan Arab (Islam) Palestina terus berperang memperebutkan tanah dan kuasa. Hak hidup dan kejayaan masa lalu menjadi dasar masing-masing berseteru. Keyakinan kedua pihak mengklaim bahwa agama dan kitab sucinya yang Benar, sedangkan lainnya salah. Ini menjadi dasar pembenaran pertumpahan darah meraka. Mungkin hanya kelelahan yang menghentikan keduanya, seperti berakhirnya perang salib yang menjadi sejarah kelam.

Seandainya waktu bisa diputar, saya akan mencegah Ibrahim berpoligami. Ibrahim harusnya lebih sabar mempunyai anak, sehingga tak perlu menikahi Hajar. Dengan begitu, perang Palestina-Israel tak pernah ada. Bapak yang nyaris menyembelih putranya, Ismail—dalam literatur Kristen, yang disembelih adalah Ishaq—itu, secara genetis merupakan pihak yang paling bertanggung jawab terhadap sejarah dan keaktualan pembantaian (ke)manusia(an) di Palestina-Israel. Termasuk tragedi Mavi Marmara, kemarin.

Saya sadari, pikiran saya soal poligami Ibrahim terlalu ngelantur. Tapi, bagi saya, ini tak lebih ngelantur dibandingkan menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Ngelanturnya masyarakat dunia, khususnya bagi yang berkonflik, karena menjadikan “perang” sebagai pilihan. Yakinlah, damai tak berpasangan dengan perang, layaknya siang-malam. “Kita semua bersaudara,” kata Dastan. Karena itu, hanya ada satu pilihan: damai. []

***

Usep Hasan S adalah Penyuka film, tak suka perang—apalagi poligami

http://hminews.com/news/perang-“persia”-palestina-israel-dan-poligami/

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda